Rabu, 05 Juni 2019

Syawal 1440

Happy Ied to me
Taqabbalallahu minna waminkum

Ramadhan kali ini datang dengan tantangan sekaligus rahmat yg luar biasa besar. Sulit bagi saya untuk merasakan kenikmatan dan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah, meanwhile di tahun sebelum2nya pun ibadah saya masih amat sangat jauh dari sempurna. Senantiasa selalu ada rasa sedih dan iri kalau melihat teman lain dalam semangatnya menyambut dan menjalankan ibadah ramadhan. Tapi semua harus wajib selalu disyukuri. Saya harus selalu mengingatkan diri bahwa begitu banyak rahmat Allah yg telah dilimpahkanNya bagi saya, bagi keluarga saya. Jadi segala kekurangan2 saya di bulan ini saya jadikan pelajaran dan bahan evaluasi diri untuk ramadhan akan datang (semoga kita semua dipertemukan dengan ramadhan tahun berikutnya). Karena segala kekurangan jika  disesali hanya menjadikan kita kufur akan rahmat Allah.
Sebaliknya syukur sebanyak2nya saya panjatkan pada Allah SWT aqqqtas segala karunia dan rahmatNya. Yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun.

Lebaran tahun ini seperti 5 tahun ke belakang, tidak dirayakan di rumah. Dan menelfon ke rumah utk mengucapkan selamat lebaran pun tidak dihiasi tangis haru biru. Kangen kue lebaran mama, kangen kue blekfores mama yang dipajang dengan penuh kebanggaan di meja makan tapi diumpetin kalau ada tamu segerombolan datang (kalau tamu satu2 dan orang dekat masih bisa ditolerir mama), kangen salaman sama papa, mama, abang, dedek setelah lebaran, kangen pergi shalat sama2 ke masjid depan rumah, kangen dengerin khutbah di depan rumah yang biasanya padat berisi, kangen ketupat dan masakan mama (apapun itu I always love everything she cooks), kangen sarapan katupek makan siang katupek makan malam katupek bisuaknyo katupek, kangen sarapan seminggu lamanya dengan sasaik blekfores. Kangen semuanya. Semoga saya ga pernah lupa nikmatnya lebaran di bukiktinggi.

Dear sayangku sibiran tulang, semoga ada kesempatan kita lebaran di bukittinggi ya nak :)
Ditulis bunda setelah beres nyuci mandi dan shalat, pastinya pas kamu lagi bobo

Selasa, 21 Mei 2019

Tanjung Batu, The Beauty of Simplicity

Hampir setahun sudah saya meninggalkan suatu kampung kecil bernama Tanjung Batu, tempat saya dan suami menjalani program PTT. Tanjung Batu begitu berarti banyak dalam hidup saya. Walaupun hanya tinggal selama 10 bulan di sana, Tanjung Batu sudah seperti kampung kedua saya. Sudah saya cintai dan rindukan sebagaimana kampung halaman tempat lahir sendiri. Orang-orang disana pun sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri, meskipun mungkin bukan sebaliknya, haha. Tapi tak apalah, memang saya sudah terlanjur cinta akan kampung kecil nan sederhana itu.
Pertama kali menaiki kapal dari pelabuhan Batam menuju pulau Karimun, tiba-tiba saja air mata mengalir. Perasaan saya bercampur aduk kala itu. Perjalanan luar pulau pertama kali bersama suami, dan juga perjalanan pertama kali bagi saya menuju provinsi Kepulauan Riau. Semua perasaan campur aduk kala itu. Sedih, terharu, deg-degan, excited, bingung. Tidak berharap apa-apa, tapi juga belum siap akan hal-hal buruk.

Alhamdulillah sesampai di Tanjung Balai Karimun kami disambut lumayan hangat oleh orang-orang dari Dinas Kesehatan. Dari sana kami kemudian menuju pulau Kundur, tempat desa bernama Tanjung Batu berada. Tempat kami mengabdi untuk beberapa bulan selanjutnya.

Setibanya pertama kali di Tanjung Batu, satu kata yang sangat menggambarkannya adalah sederhana. Tidak, desa ini tidak terlalu terbelakang. Banyak ruko-ruko, warung makan, listrik dan air hampir 24 jam, jaringan internet aman. Semuanya ada namun juga tidak berlebihan. Inilah yang saya suka dari Tanjung Batu. Semuanya sederhana, tidak kurang, tidak pula lebih. Dan semua masyarakatnya hidup dengan penuh syukur. Terbukti dari keceriaan dan keramahan mereka. Banyak dari penduduk asli Tanjung Batu yang berkuliah tidak hanya di Kepri saja namun juga di luar provinsi yang jauh. Namun kebanyakan dari mereka setelah menamatkan kuliah, balik lagi ke kampung halaman. Mungkin semua itu memang hanya karena besarnya rasa cinta mereka terhadap kampung halamannya.

Bertemu dengan beberapa staf Puskesmas Tanjung Batu hanya menambah rasa kagum saya terhadap masyarakatnya. Semakin membenarkan adanya bahwa masyarakat melayu ini memang sangat ramah, suka bergurau, apa adanya. Setibanya kami di pelabuhan Tanjung Batu, kami dijemput oleh supir ambulans puskesmas, Bang Indra namanya. Kemudian sekilas beliau menjelaskan jalanan Tanjung Batu. Dari pelabuhan menuju puskesmas, sepanjang jalan itu, itulah Tanjung Batu. Lebih tepatnya Tanjung Batu Kota namanya, semacam nama kelurahannya (dalam ruang lingkup lebih sempit). Sepanjang jalan utama itu, kami melewati kantor pos, kantor polisi, sekolah, beberapa bank (Mandiri, BRI, Bank Riau Kepri), Kantor kecamatan, kantor-kantor perangkat desa lainnya, Balai Sri Gading (balai pertemuan), Masjid, Gereja, Klenteng, yang paling banyak adalah ruko dan warung makan.

Hari-hari pertama kami lalui dengan mencoba segala kuliner yang ada dan menjelajah sejauh mungkin pulau Kundur. Sejauh yang bisa saya ingat, tidak pernah rasanya makanan yang saya makan di Tanjung Batu terasa tidak enak. Semua rasanya enak. Beberapa bulan terakhir barulah saya bisa benar-benar mengklasifikasikannya mana yang enak, sangat enak, dan kurang enak. Bisa jadi karena sudah bosan. Atau mungkin juga karena saat awal-awal di sana kami masih pasangan newly wed, yang semua hal terasa indah, semua makanan terasa nikmat :D
Indahnya masa-masa pengantin baru <3

Berhubung sudah semakin malam, saya sudah agak mengantuk, kebaperan sudah perlahan hilang, dan saya sudah tidak fokus, saya sudahi dulu tulisan melow2 saya tentang Tanjung Batu.
Insya Allah kapan-kapan akan saya sambung lagi kalau saya lagi baper, hehe.. 

Selasa, 02 Februari 2016

song of a lifetime




"Nothing's Gonna Change My Love For You"


If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They'll take us where we want to go
Hold me now
Touch me now
I don't want to live without you

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you

If the road ahead is not so easy
Our love will lead the way for us
Like a guiding star
I'll be there for you if you should need me
You don't have to change a thing
I love you just the way you are
So come with me and share the view
I'll help you see forever too
Hold me now
Touch me now
I don't want to live without you

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

This song is written by Gerry Goffin and Michael Masser, and was originally recorded by George Benson in 1985. It became popular again in 1987 when sung by Glenn Medeiros. (source: Wikipedia) 
And this video above is its Westlife version released in 2006. And I, I heard this song for the first time, honestly, in one of korean drama series REPLY 1988, just a couple of weeks ago.

This song, just sweet :'')

One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

Jumat, 30 Oktober 2015

“Alice: How long is forever? 

White Rabbit: Sometimes, just one second.”

- Lewis Carrol, Alice in Wonderland 

Sabtu, 29 Maret 2014

"The Call"

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back when you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon and follow the light
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
You'll come back when it's over
No need to say goodbye

Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
'Til they're before your eyes
You'll come back when they call you
No need to say goodbye
You'll come back when they call you
No need to say goodbye



Akhir-akhir ini dapet postingan yang sedikit mengejutkan sekaligus menyenangkan dari sebuah grup medsos, katanya bulan Ramadhan tinggal 100 hari lagi, apa yang sudah dipersiapkan?

Senang karena Ramadhan yang indah dan penuh berkah itu akan datang lagi :D Kaget karna ga kerasa banget sebentar lagi udah mau Ramadhan aja. Padahal rasanya belum lama ini saya menangis-nangis minta pulang saat Idul Fitri.

Lalu, apa saja yang sudah dipersiapkan? Ini bikin sedih :''(   mengingat kondisi saat ini yang ....

Lalu, saya ingat rumah. Sudah 2 atau 3 tahun tidak menikmati setengah dari Ramadhan di rumah saja, yang namanya Ramadhan itu bagi saya tetap artinya rumah, ingatan yang paling melekat di saat-saat Ramadhan adalah suasana rumah yang tenang, mama yang sibuk memasak, ajakan papa di sore hari untuk membeli "pabukoan" alias ta'jil, berbuka bareng di ruang tengah yang dibentangin karpet, mempersiapkan pabukoan, piring-piring, teh manis anget, memanggil dedek untuk segera berbuka yang biasanya lagi sibuk main games atau nonton, atau internetan di depan laptop. Lalu malamnya pergi ke masjid dekat rumah untuk shalat Isya berjamaah + tarawih + ceramah agama.

Entahlah bagaimana Ramadhan tahun ini. Yang pasti waktu-waktu indah seperti dulu akan semakin berkurang. Semoga Allah masih mengizinkan kita untuk bertemu bulan Ramadhan, dan semoga ada kesempatan untuk berkumpul kembali seperti tahun2 lalu.

http://www.quotesfrenzy.com/86152/sad-love-quotes-16-2


Oh iya, lagu di atas malah ngingetin saya tentang rumah. Kangen. Walaupun artinya ga terlalu nyambung sih, hehe.

Senin, 10 Februari 2014

Akhirnya ngajar :)

Akhirnya menemukan celah juga untuk menulis. Adalah Jumat sore tertanggal 24 Januari saya seharusnya menulis di blog ini sesuai janji saya saat itu. Ada apa emangnya di hari itu? Well, sebelumnya FYI, berkat tawaran dari Juan yang baik hati, selama sekitar setengah bulan saya liburan di nangor, 2 hari dalam 1 minggunya saya rutin habiskan untuk mengajar bocil-bocil berbahasa inggris. Awalnya saya pikir nothing to lose, di saat saya bengong nggak jelas di kamar kosan, dan memang benar-benar tidak ada kegiatan yang urgent dari kampus, "why not?" pikir saya waktu itu ketika ditawarkan untuk menggantikan Juan mengajar selama sebulan, karena dia harus mengikuti program KKN.

Untuk memberikan gambaran dulu, sebelum saya benar-benar menerima tawaran itu, akhirnya saya memutuskan untuk ikut melihat-lihat gimana sih proses belajar mengajar di sana. Eh, taunya pas sampai di sana saya, berdua dengan Risma yang masih newbie, sudah ditawarkan untuk mengajar satu kelas, berisikan bocil-bocil berusia 3-5 tahun. Apa yang terjadi? Saya lebih banyak diam dan senyum-senyum, sementara Risma sepertinya sudah berusaha sangat keras menenangkan kelas, ditambah lagi pertanyaan anak-anak, "Miss Juan mana? Mau sama Miss Juan?" Oke baiklah, pada titik itu aku sudah berlatih sendiri di dalam hati merangkai kata yang masih terdengar sopan untuk menolak tawaran Juan. I can't stand on such things like this.

Tapi pada akhirnya, di sore yang niat awalnya hanya untuk melihat-lihat saja itu, saya memutuskan untuk mencoba, mengambil kesempatan, sekaligus menantang diri saya sendiri. Diri saya ini, yang saya amat kenali, sejujurnya memiliki perasaan yang tidak terlalu terasah dengan baik, alhasil sedikit berbeda dengan perempuan kebanyakan, tidak terlalu peka akan perasaan orang lain, dan hal lain juga yang terkait adalah sulit mendapatkan chemistry yang pas dengan anak-anak. Sementara the other girls, yaaah tau lah ya, yang ga bisa diam dan duduk tenang setiap melihat bayi atau anak kecil, yet, I'm not kinda that girl.

Nah, justru karena itulah, akhirnya saya menerima tantangan, eh tawaran dari Juan dan tentunya Bu Arry (yang mengelola les Bahasa Inggris ini). Pertama kali saya ngajar, semenjak dari kosan saya udah deg-degan parah. Udah siap sedia dengan amunisi (boneka2, dan benda2 lucu lainnya), lagi-lagi kelas yang saya ajar adalah bocil-bocil berumur 3-5 tahun, okay let's say this Toddlers's class. Alhamdulillah, setelah saya sukses mensugesti diri untuk menjadi anak kecil (bernyanyi-nyanyi riang plus gerakan yang overlimit, suara setengah cempreng), 15 menit lebih cepat dari yang seharusnya, anak-anak meronta-ronta ingin pulang. Akhirnya saya melakukan kesalahan besar, memulangkan mereka 15 menit lebih cepat. Setelah itu saya ditegur sama Bu Arry karena jadinya ga enak juga sama orang tua. Bu Arry, maafkan saya. Di kelas selajutnya, tidak terlalu jauh berbeda, ada 1 anak yang ga akan pernah bosan bercerita apaaaaaaaaaaa sajaa. Apapun. Dan lucuuuuu >,< Oke, walaupun anak ini sedikit mengganggu flow mengajar (hal ini sebelumnya udah diwanti2 sama Juan). Sebaliknya ada anak yang kayanya denial banget sama guru baru, alias saya, yang mana ini anak dari awal masuk sampai mau pulang, nunduuuuk aja, dan bahkan dia tidak duduk, melainkan bergulung di kursi. Tell me, how to face this

Menyadari kewalahan saya mengajar the toddlers, akhirnya Bu Arry menawarkan saya untuk mengajar anak-anak yang sedikit normal, eh maksudnya sedikit lebih besar, kisaran kelas 3-5 SD. Saya tanpa pikir panjang langsung menerima sekaligus bernapas lega :D Dan Alhamdulillah pengalaman mengajar selanjutnya ga sedahsyat pada hari pertama. Akhirnya saya malah menikmatinya. Sorakan "Yaaah" putus asa saat saya berkata, "Ya, boleh pulang, tapi...", atau "Sekarang kerjakan halaman setelahnya," wajah-wajah berseri-seri penuh semangat saat menjawab pertanyaan rebutan untuk tiket pulang, dan berbagai tingkah kepolosan mereka.

Ada satu hal yang menurut saya lucu dan menarik banget. Waktu itu saya ceritanya mau bikin games, tapi paling tidak anak-anaknya harus dibagi dalam 2 kelompok. Mengingat perbandingan laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang, 7 (atau 6 ya?)  berbanding 4, saya menawarkan bagaimana kalau kelompoknya campur laki-laki dan perempuan (lupa akan kepolosan dan kejernihan hati mereka). Semua langsung bersorak "Gak mauu miss, gak mauu!" Berontak tidak setuju. Hahaaaa... saya hanya bisa senyum-senyum melihat respon mereka. Anak-anak yang polos, you just never know how you will be looking for each other in the next 10 or 15 years, maybe. Ini juga salah satu kenapa saya menikmati mengajar. Kepolosan mereka terkadang malah mengingatkan saya di saat-saat terburuk saya.

Anak kecil aja ga mau miss disatuin, masa yang lebih dewasa kalah sama anak kecil :p

Daan, kabar gembiranya lagi, dari kemaren2 yang lalu, Risma menghubungi saya tentang titipan Bu Arry, alias honorariuuuum (melompat senang). Ga pernah berharap apa-apa tentang satu ini sebenarnya, mengingat ekspresi Juan dulu yang bilang "Masalah honornya, terima aja, ga banyak." So what more can I say, right? Dan ternyata, kemarin saya baru benar-benar tau jumlahnya dari Risma, which is, udah lumayaaaaan banget banget. Mengingat saya rasanya ga ngapa-ngapain, hiiks :''') Makasih bu Arry, makasih semuanya, makasih anak-anak polos dan lucu yang udah mau saya ajar. Maafkan saya kalau terlalu banyak kekurangan. Semoga kelak kalian bisa jadi insan yang berguna, shaleh/ah, calon pemimpin umat, pemberi teladan bagi sekitar. love youuu <3

Oh iya, btw tanggal 24 Januari sejujurnya belum kejawab. Itu adalah hari terakhir saya mengajar anak-anak itu. Akhirnya hari itu saya menyatakan ketidaksanggupan saya pada Bu Arry, karena besok-besoknya saya udah harus pindahan ke Bandung dan akan lebih hectic di Bandung. Akhirnya Bu Arry memahami dan berusaha membujuk satu pengajar untuk bersedia menambah jam mengajarnya, menggantikan saya.

Senin, 30 Desember 2013

Al An'am

6: 94. "And behold! ye come to us bare and alone as We created you for the first time: ye have left behind you all (the favours) which We bestowed on you: We see not with you your intercessors whom ye thought to be partners in your affairs: so now all relations between you have been cut off, and your (pet) fancies have left you in the lurch!"
6: 94. Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).

Kamis, 12 Desember 2013

3,5 years made it

Jumat, 6 Desember 2013, tanpa terasa sampailah saya pada hari itu. Hari itu adalah hari terakhir kalinya saya menjalani kegiatan perkuliahan formal di kampus Jatinangor ini. Ditutup dengan kelas tutorial bersama teman-teman grup C2. Pastinya banyak hal berlalu dari semenjak pertama kali saya menginjakkan kaki ke kampus ini. Sebagai orang yang tidak mengenal siapa-siapa, tidak mengenal daerahnya, jauh dari orangtua, jauh dari semua kemanjaan yang biasa saya dapatkan di rumah.

Mulai dari pertama kali saya menginjakkan kaki di  Bale Padjadjaran 3, berharap-harap cemas menunggu ketiga teman sekamar lainnya, Mutia, Pute, dan yang terakhir kali datang di sore hari, di hari terakhir sebelum besoknya OPPEK, Chelsea. Bahkan saya masih ingat keramaian yang terjadi di kamar 33 saat Chelsea sekeluarga datang dengan hebohnya. Mama, kakak, dan adik-adiknya Chelsea yang super ramah :) Maka mulai dari sini, saya menemukan satu-persatu keluarga saya.

Tak bisa dipungkiri kalau pada akhirnya di antara mereka bertiga saya langsung merasa lebih akrab dengan Chelsea, yang terbuka, keibuan, perhatian, dan tanpa segan-segan bakal negur saya kalau saya lagi malas-malasan belajar. "Mi, lo harus belajar mi." "Mi, bangun mi." Yaa.. saya memang tukang tidur kalau di kamar. Dengan santainya saya bisa tertidur pulas, sementara dua orang teman saya lainnya begadang habis-habisan untuk belajar. Tapi Chelsea dan Muti pada akhirnya menyadarkan saya tentang berusaha keras dan tidak gampang menyerah. Dan tentunya banyak hal yang sudah kita lakukan bersama-sama. Walaupun biasanya hampir setiap weekend saya ditinggal sendirian di kamar, karena mereka semua pasti balik ke Jakarta, tapi beberapa weekend di bale yang ditemani Chelsea ataupun Muti jadi lumayan berkesan juga. Kalau udah giliran mereka ga pulang, biasanya kita keluar abis maghrib buat beli makan plus berburu DVD, abis itu nonton bareng deh di kamar (which is saya jarang banget ikutan). Huaa kangen kaliaaan :''(

Oh iya, dan tentunya tidak akan lupa juga tetangga kamar lain, yang jadi target nyampah saya kalau mereka berdua sedang tidak di kamar, ada kamar 26: Herning, Karina, Fani, dan Icha, dan kamarnya Lidya dan Fahma, plus kamar di lantai bawah Yaya, Dewi, dan Uus. Yap inilah keluarga baru saya.

Lalu teman-teman tutor pertama saya di D4, ada Detti, Dhita, Ucrit, Ajeng, Pute (lagi, hehe), Mala, Opik, Gem, Yayak, dan Enggar. Ada yang ga kesebut? Maaf yaa, don't meant it. Di hari pertama saya langsung merasa nyambung ngobrol sama Detti. We shared many things. Saya dengan polosnya langsung cerita banyak ke Detti kalau banyak banget masalah culture shock yang saya hadapi pas awal-awal di sini. Kesenangan saya semakin bertambah saat tau kalau Detti juga sesama INTJ- the strategist. Hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi di tutor (presentasi LI kurang maksimal, ga ngerti pelajaran, tutornya aneh) selalu jadi bahan obrolan panjang setiap pulang kuliah. Selain Detti juga ada Mala dan Dhita yang baik hati. Dan tentunya teman-teman lain, teman-teman yang menjadi saksi kepolosan dan ketidaktahuan saat masih awal-awal di FK. Teman-teman yang jadi saksi pas kita semua ditutorin sama Prof Tri, sampai pas bulan Ramadhan diundang buka di rumahnya :) That was sweet

Berlanjut ke semester 2, setelah tanpa terasa 5 bulan terlewati, dengan dua kali SOCA yang hasilnya tidak begitu memuaskan. Tutor RPS waktu itu juga tidak kalah seru. Aku yang memang biasanya selalu telat beradaptasi, sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan suasana FK. Proses pembuatan dan presentasi LI jadi lumayan baik dibanding saat FBS. Dosen-dosen tutor yang menyenangkan dan lebih easy going sangat membantu waktu itu. Di tutor ini juga saya akhirnya jadi lumayan lebih dekat dengan Dini, salah satu teman yang sampai hari ini sudah merecoki banyak bagian dari hidup saya, haha. To be honest, karena Dini lah akhirnya saya mendapatkan semangat lagi dalam belajar di FK, dengan sedikit lebih berani mengatakan pada diri sendiri bahwa saya memang pantas di sini. Dini yang entah karena saking baiknya, atau memang dengan tulus selalu bilang ke saya, "Tu kan Mia bisa,". Saya menyaksikan sendiri bahwa memang usaha dan kerja keraslah (especially untuk usaha begadangnya Dini) yang membuat semuanya jadi mungkin.

Rasanya warna-warni FK tidak akan lengkap tanpa kegiatan kemahasiswaannya yang padat merayap. Waktu itu saya pernah coba-coba ikutan Senat Mahasiswa, yang diketuai oleh kang Radit, yang pada akhirnya saya dapatkan diri saya tidak terlalu cocok di sana. Untungnya di saat yang sama saya juga memilih Asy-Syifaa' yang waktu itu dengan status DKM nya, sebagai kegiatan "tambahan" dalam mewarnai hidup saya di FK (dan ternyata dia sukses mendominasi -___-). Inget banget suasana EMBRYO nya yang bertempat di Situ Patenggang. Cukup tau saja kalau waktu itu sekitar jam 3-4 subuh kita disuruh jalan kaki dari Ranca Upas ke Situ Patenggang (sampai sekarang saya masih belum terlalu ngerti kenapa harus sesubuh itu, dan kenapa harus jalan kaki??). Itu kegiatan kemahasiswaan yang paling berkesan bagi saya, walaupun sebelumnya juga ada kegiatan lain, yaah let's say Supercamp. No comment -,- 

Naah di Asy-Syifaa' ini jugalah akhirnya saya menemukan potongan rumah baru lagi. Saya merasa nyaman di sini, dengan teteh-tetehnya yang kalem dan lembut, dengan teman-teman yang sangat menginspirasi dan memberikan hidayah. Hiks jadi terharu... Sampai akhirnya saya berhasil tercebur seutuhnya di sini, kenal dengan teman-teman yang sampai sekarang insya Allah selalu bersama-sama dalam meraih hidayah-Nya. Afifah, Elsye, Amila, Icha, Pusfa, Teh Farah (walaupun dia ga ikut Asy-Syifaa' sih), Sheilla (walaupun deketnya pas udah tahun 3 :p). Thanks to you all. You are all the real family :''')

Tahun demi tahun berlanjut, sistem demi sistem, kelompok tutor ke kelompok tutor berikutnya, daan sampailah pada masa-masa sulit. Skripsi. Yang pada awalnya sempat terbayangkan tidak akan pernah selesai. Yang pada W-2 saya merasa masih belum move on dari bab I Latar Belakang, bolak-balik Bandung-Nangor untuk bimbingan, cari jurnal, mencari dosen pembimbing, menunggu dosen pembimbing di lorong IPD yang sepi karena hampir sebagian dokter sudah pulang. Oh iya, ga akan lupa juga pertama kali naik lantai 4 IPD, saya (yang emang norak ini) sempat bengong dulu melihat pemandangan kota Bandung dari berandanya. Masa-masa bolak-balik dengan Arnest, yang menguras energi dan uang jajan, hiks. Akhirnya tanggal 20 November lalu saya pun, bersama teman-teman lainnya berhasil mengumpulkan jurnal (yang belum disidang, #ups).

3,5 tahun, apa yang saya dapatkan? Mungkin masih banyak ilmu kedokteran yang belum saya kuasai. Sekian banyak otot yang masih saya belum bisa sebutkan namanya, berpuluh-puluh nama saraf yang masih sulit bagi saya untuk membayangkannya, begitu banyak patogenesis penyakit yang belum saya mengerti, begitu banyak lecture yang dengan mudahnya saya lupakan begitu saja sesaat setelah lecture usai. Banyak. Banyak sekali. Hingga saya merasa, "Ngapain aja 3,5 tahun??" Tapi sisi lain dari diri saya pun tidak menerima begitu saja pertanyaan retoris itu. 

Banyak yang saya belum tahu, atau mungkin lupa. Tapi banyak juga hal berharga yang saya dapatkan di sini. Tentang teman-teman semua, tentang pentingnya berbagi, pentingnya peduli. Begitu sering kita ditempatkan bersama-sama, di bale, kelompok tutor, kegiatan kemahasiswaan, kepanitiaan, jalan-jalan bareng yang rata-rata kita pasti pada akhirnya merasa lebih nyaman dengan teman-teman FK lagi, dengan teman-teman yang seangkatan lagi. Banyak hal yang berubah dari diri saya, yang tanpa sadar adalah karena teman-teman semua di FK, tentang semangatnya, tentang kemauan belajar. Satu hal yang tak kalah penting adalah pelajaran-pelajaran berharga dari dosen-dosen di FK yang mengajarkan arti pentingnya ilmu, pentingnya etika, pentingnya curiosity, pentingnya jujur, and a true meaning of becoming a doctor.

Yet, this is not the end after all, there is still koas, for 1 and a half year, still a long journey to become a doctor. Bahkan skripsi pun belum, sidang pun belum, UAS saja masih belum berakhir. But it's truly getting closer. Ya Allah, tunjuki selalu langkah ini. Berikan selalu yang terbaik Ya Allaah.. Your plan is what obviously the best of all :)

Pemandangan dari lt 4 IPD (sumber: pribadi)

Sabtu, 16 November 2013

What life means to me

Setelah baca tulisan abang, saya jadi kepikiran buat nulis juga. Sebenernya apa sih makna hidup kita saat ini? Ih, pertanyaannya basi banget. Udah jelas2 ada di Surat Adz-Dzariyat ayat 56. Itu lo, yang sering diulang2, "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku."

Allah sebenernya udah dengan jelas menunjukkan jalan bagi kita di dunia ini. Ibaratnya, kita di sini adalah musafir yang dalam penantian. Penantian ke kehidupan yang lebih abadi. Secara seorang musafir, wajar kalau terkadang kita terombang-ambing di dunia ini, kan kita memang bukan seharusnya di sini. Ini cuma sedikit bagian dari perjalanan panjang kita. Nah, makanya ada Al-Qur'an sebagai guidance untuk kita semua, ibarat peta bagi para pelancong.

Tapi terkadang, hati ini seringnya masih saja membatin, "Buat apa saya di sini?" Apalagi kalau pas lagi banyak-banyaknya masalah, lagi ga enakan sama teman, lagi banyak tugas buat dikumpulin besok tapi ga menemukan titik cerahnya (alias berasa ga selesai2), lagi detik-detik pengumpulan jurnal (haha, curhat), atau sedang merasa bosan dengan rutinitas. Semacam zombi yang udah ga ada nyawa lagi, dengan tatapan kosong cuman mengikuti rutinitas yang biasa dilakukan. Ga ada ruhnya lagi. Ga ada semangatnya lagi. Nah, saat-saat kaya gini banget nih yang terkadang bikin kita lupa sama Surat Adz-Dzariyaat ayat 56 tadi.

Eh, muternya kemana-mana. Sebenernya cuma ingin berbagi...

Menurut saya, hidup ini, walaupun cuma sementara, means a lot :)
Alhamdulillah, saya dilahirkan di sebuah keluarga yang indah, yang saya cintai.
Allah begitu baik telah memilihkan keempat jiwa-jiwa terbaik ini sebagai darah daging saya.
Papa, yang selalu saya kagumi, dan (merasa) banyak bakat-bakat beliau dan jalan berpikir beliau nular ke saya.
Mama, yang selalu sabar, dan menenangkan saya. Saya selalu ingat saat-saat bersama mama makan lontong sayur + bakwan di depan RSAM, biasanya pas pulang sekolah. Hiks, I miss that moment :''( 
Mama yang selalu bilang, "Saba yo nak. Tapi Mia yang nio jadi dokter. Mia harus kuat." Di saat-saat pertama di bale, yang waktu itu memang bikin saya stress dan rasanya pengen pulang saja dan berhenti kuliah.
Abang, yang selalu punya lawakan/ hal bully an untuk adik2nya. Yang dulu kepulangannya dari Padang (pas kuliah) selalu saya dan dedek nantikan. Kalau abang udah pulang hal pertama yang kami tanyakan adalah, "Ado komik baru bang?" Dan kemudian berebut membacanya. Biasanya saya mengalah sama dedek, berhubung kemampuan baca saya yang lambat. Kayanya cuman pas gempa yang gede banget itu kami tidak menanyakan komik.
Dan dedek, yang saya anggap sebagai teman sepermainan. Walaupun sering berantem, tapi saya menyadari banyak banget hal yang mirip di antara kami. Saat-saat saya berlomba-lomba bangun tidur lebih dulu, terus pas dedek baru bangun sekitar jam 8 an, saya dengan enteng bilang, "Yang terakhir bangun beresin kasur." Jadilah dia 3-4 hari berturut-turut yang membereskan kasur sampai akhirnya saya ga tega juga. "Edek pasti ingek kaaan.."

Sampai di mana masa-masa itu kehilangan waktunya. Terutama saat saya dan dedek harus bersekolah nun jauh disana. Dedek sih yang paling random -__-" Hal-hal itu tidak lagi kami temui. Mie goreng enak buatan mama di Minggu pagi, obrolan hangat dan sendu di saat mati lampu, menanti kepulangan papa di malam hari dengan martabak mesir atau nasi goreng oke (emang namanya itu), atau martabak bandung (kalau di sini sih namanya martabak manis), saat-saat saya selalu ke kamar abang tiap malam, diikuti tatapan sinis abang yang saya abaikan pastinya, yang saya teruskan dengan segala ocehan-ocehan tidak berbobot, hahaa (yang pastinya itu mengganggu banget), terus abis itu keluar tanpa babibu atau emang udah diusir.

Indah banget rasanya. 4 jiwa. Yang selalu kubawa kemana-mana. Yang selalu kusebut dalam doaku. Yang telah membuatku menjadi begini, menjadi lebih mengerti hidup, menguatkanku di saat-saat terlemahku, yang membuatku dapat memilih pilihan yang tepat dalam hidupku. 

Ternyata hidup itu memang tentang perubahan. Waktu tadi pagi saya keluar kosan dan melihat anak umur sekitar 5 tahun sedang bersenandung lagu ala anak-anak TK, tiba-tiba saya kepikiran, "Pengen jadi anak TK ajaa." Tapi sudah jelas itu ga bakal ada, dan ga pernah bisa. Kita dituntut dewasa, dinamis, menciptakan alur hidup sendiri. Mungkin pas kuliah masih bisa ikut arus, ikutin orang kebanyakan. Orang ngerjain tugas, kita juga. Temen2 ngajakin main, masih bisa ikutan. Sedih senang masih bisa dirasa bersama-sama. Kalau lagi ada masalah, telat datang ke kampus, lupa ngerjain tugas, masih ada teman senasib yang bakal bareng-bareng ngurusin surat ini itu. 

Ternyata berbeda halnya setelah kehidupan masa "bareng-bareng" berlalu. Apa2 pikirin sendiri, tanggung sendiri. Orang-orang walaupun ga mau dibilang egois, pada dasarnya memang egois, dalam arti yang positif. Saat dimana kita, sebelum minta tolong teman, lebih sering berpikir dua kali, dia kan juga punya masalah. Yaah, hal-hal seperti itulah. Sampai-sampai kita juga lupa memerhatikan sekitar. Sampai-sampai lupa menanyakan kabar mama, papa, abang, dedek. Hiiiks...

Ingatlah, seberat apapun masalah, selalu ada tempat kembali. Selalu ada saat-saat kita bisa menarik napas sejenak, menghembuskannya, dan menyadari bahwa This is not the end, after all. Kita selalu bisa mengadu pada yang memiliki alam raya ini, kerajaan langit dan bumi, Maha Pembolak-balik hati, yang bahkan sehelai daun yang jatuh pun tidak akan jatuh jika tidak dengan izin-Nya. Masalah yang kita hadapi, yang menurut kita sangat besar, bagi Allah sangat mudah untuk menyelesaikan-Nya, dan kita bahkan diminta/ diwajibkan malah, untuk hanya meminta kepada-Nya.

Yayayaa... dan justru poin terpenting ini yang saya sering lupa. Justru di saat-saat genting saya lupa untuk menarik napas sejenak, melihat sekeliling, dan menyadari bahwa, "Oh iya, saya masih punya Allah."

Kamis, 07 November 2013

Sleeeeeeep

Jadi ceritanya kasus minggu ini adalah tentang Insomnia, dan saya dapat learning issue nya bagian sleep hygiene. Sekalian pas browsing tentang LI saya, saya jadi kepikiran buat searching sleep in Islamic perspective gitu. Dan Alhamdulillah nemu yang bagus :) Karena saya baik, saya akan bagi linknya:

Naah, di antara pembahasannya yang menarik itu, saya juga menemukan LI saya secara tidak langsung di sana. Jadi LI saya yang sudah lebih dulu saya baca dari sumber lain punya banyak kesamaan sama kebiasaan tidur yang dianjurkan dalam Islam.



Sebelum membahas lebih lanjut, saya kasih tahu deh maksud sleep hygiene apa. Kalau gampangnya sih, sleep hygiene itu bahasa lain dari sleep habit. Jadi kalau ada orang yang mengalami gangguan tidur, bisa dibilang kalau dia punya poor sleep hygiene, atau kebiasaan tidur yang buruk. Nah, di antara sleep hygiene adalah sebagai berikut:

  1. Mengatur waktu tidur dan waktu bangun dengan teratur. Nah ternyata dalam Islam sudah ada anjuran untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Seharusnya seorang muslim punya jam tidur yang teratur, apalagi ada shalat subuh yang waktunya sekitar 1 jam sebelum matahari terbit.
  2. Melakukan ritual yang menenangkan sebelum tidur. Dalam Islam kita juga disunnahkan untuk berwudhu sebelum tidur. 
  3. Cari posisi paling nyaman dalam tidur. Sudah banyak dibahas juga kalau Rasulullah SAW menganjurkan tidur dengan posisi berbaring ke arah kanan. Posisi ini menurut penelitian juga paling baik, terbukti pada posisi ini terdapat cardiac vagal activity yang paling baik dibandingkan dengan posisi lainnya, dan memiliki efek antiarritmia (arritmia= irama jantung tidak normal).
  4. Tidak tidur dalam posisi telungkup/ tengkurap. Katanya posisi ini dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Pada penelitian juga menunjukkan bahwa bayi yang tidur dalam posisi telungkup punya risiko 7x lebih besar mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
  5. Mematikan lampu sebelum tidur. Hal ini juga ternyata terdapat dalam hadits. Dalam ilmu sainsnya berkurangnya cahaya dapat menstimulasi pelepasan melatonin oleh otak, yang bakal nyebabin ngantuk.
Sekian :)
Tambah tertarikkah? Yuk, baca jurnalnya! Masih banyak lagi hal-hal menarik lainnya. Tentang pentingnya tidur dalam Islam, interpretasi mimpi dalam Islam, tentang kisah Ashabul Kahfi, tahapan tidur dalam Islam yang ternyata mirip sama penelitian modern (REM, non REM).

“Then after the distress, He sent down security upon you. Slumber (Nu’ass) overtook a party of you, while, another party was thinking about themselves (as how to save their own selves)” [verse 3.154].
The Prophet (pbuh) told one of his companions (Ibn Amr) who was praying the whole night “Offer prayers and also sleep at night, as your body has a right on you” (SB 1874).